Beritalangitan.com – Dewasa ini, sering sekali
kita temukan berita atau informasi melalui televisi atau media online yang
“dipelintirkan”. Seperti terdapat kepentingan dari pihak-pihak tertentu untuk
mencapai tujuannya.
Terlebih lagi banyak spekulasi bahwa media sekarang ini
dikontrol dan dikuasai oleh pihak barat dan antek-anteknya yang selalu
menyudutkan umat Islam. Misalkan sekarang yang sedang hangat mengenai
toleransi.
Toleransi menurut Islam yaitu kita membiarkan dan tidak
mengganggu aqidah dan ibadah dari umat lain (non Islam) dan menjaga ketentraman
bersama. Namun mirisnya banyak sekali pihak-pihak yang memanfaatkan hal
tersebut untuk menyudutkan umat Islam.
Umat Islam dianggap intoleran karena melarang umatnya mengucapkan
selamat
Natal, Tahun Baru, dan Valentine. Islam dianggap sebagai penyebab
kekacuan dan mengganggu kerukunan beragama.
Padahal jika kita menengok sejarah, Islam sangat menjunjung
tinggi toleransi. Terbukti dari pendahulu-pendahulu kita yang mana saat
pemerintahan Rasulullah SAW dan Kekhalifahan Islam memposisikan umat non Islam
setara dengan umat Islam, mereka mendapatkan hak-hak dan perlindungan yang sama
di depan hukum.
Ketentraman mereka sangat terjaga dan mereka leluasa untuk
melakukan ibadah sesuai agama yang dianutnya. Sampai-sampai diceritakan bahwa
mereka lebih senang dipimpin dibawah kekuasaan Islam dibanding dipimpin di
bawah kekuasaan Romawi. Kurang toleransi apa umat Islam?
Begitu juga di negara Indonesia. Negara Indonesia merdeka
terutama berkat perjuangan umat Islam, buah kemenangan dari tetesan darah umat
dan ulama sebagai pemimpinnya. Dibuktikan dengan sila pertama Pancasila diubah,
hari Ahad diganti dengan hari Minggu, penanggalan Hijriyah diganti dengan
penanggalan Masehi.
Selain itu, hari libur yaitu hari Minggu padahal mayoritas
umat di Indonesia adalah umat Islam berkisar 90% yang ibadah mingguannya dihari
Jum’at. Tetapi umat Islam ikhlas demi untuk menjaga kerukunan sesama. Kurang
toleransi apa umat Islam?
Saudaraku kita dilarang mengucapkan Selamat Natal, merayakan
tahun baru, Hari Valentine karena itu dapat membatalkan aqidah, minimal merusak
aqidah kita. Kita mempersilahkan mereka merayakannya tetapi tidak ikut dalam
memeriahkannya karena kegiatan-kegiatan tersebut terdapat unsur ibadah dan
ritual bagi agama mereka.
Sedangkan pada ajaran mereka tidak dilarang untuk
mengucapkan selamat untuk perayaan-perayaan besar umat islam. Ibaratnya jika
kita mengucapkan selamat kepada perayaan mereka sama seperti mereka mengucapkan
syahadatain. Ingatlah hadist Rasulullah SAW :
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum
kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika
orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun,
-pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai
Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau
menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Wahai saudara-saudaraku yang seiman, ingatlah kalau agama
kita mengatur segala aktivitas-aktivitas kita sehari-hari mulai dari bangun
tidur hingga kembali tidur lagi. Sesungguhnya peraturan-peraturan itu bukanlah
untuk mengekang kita, justru Allah SWT sayang kepada kita agar dalam melakukan
aktivitas kita berlandaskan karena Allah SWT, aktivitas kita bermanfaat dan
memdapatkan keridhoaannya.
Tidak ada peraturan yang diberikan Islam yang tidak baik,
semuanya diatur untuk membuat kehidupan kita terkelola dengan baik dan tentunya
memberikan nilai serta manfaat untuk sekitar kita. Semoga kita selalu
dirahmatin dan diberi petunjuk oleh Allah SWT dan termasuk kepada golongan
orang-orang yang bertaqwa.
“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya
‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’
(HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shohihul
Jami’). (die)
No comments:
Post a Comment